Make yourself happy

Seputar Masalah Bangsa

Halaman ini berisi pandangan saya mengenai berbagai masalah bangsa yang menyita perhatian masayarakat. Harapan saya, gagasan saya yang bisa dibilang masih agak kasar ini suatu saat dapat benar-benar bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Memutuskan Rantai Kebencian

Oleh: Maksimus Adil* 

Luka karena dendam dan kebencian yang diderita bangsa ini harus segera disembuhkan dan dipulihkan demi mewujudkan masa depan bangsa yang dicita-citakan.

Perdebatan mengenai sikap yang tepat dalam menangani kasus hukum Soeharto kembali menghangat, terutama sejak kesehatan mantan penguasa Orde Baru itu memburuk Perdebatan itu mengerucut dalam dua sikap yakni menghentikan seluruh proses hukum dan memaafkan Soeharto di satu pihak dan meneruskan seluruh proses hukum di lain pihak.

Meski tampak bertolak belakang, kedua pandangan itu berangkat dari titik yang sama yakni demi kemanusiaan. Pihak yang menginginkan penghentian proses hukum melihat kondisi Soeharto yang menderita dan tidak berdaya sebagai alasan penghentian perkara dan meminta masyarakat memaafkan beliau demi kemanusiaan. Pihak yang menutut penyelesaian secara hukum melihat keadilan bagi semua di depan hukum juga demi kemanusiaan. Termasuk di dalamnya keadilan buat Soeharto sendiri.

Akar terdalam dari perbedaan cara pandang ini sebetulnya adalah dendam dan kebencian. Harus diakui, bangsa kita mengalami berbagai bentuk penindasan sejak zaman penjajahan hingga kini. Kalau selama zaman kolonialisme kita dijajah bangsa asing, selama masa kemerdekaan kita dijajah bangsa asing – dalam bentuk penindasan di bidang ekonomi – dan bangsa sendiri.

Para penguasa yang adalah anak negeri – dari sikap dan tindakannya terhadap sesama anak bangsa – berlaku seperti penjajah. Mereka dapat bersikap seperti penjajah dalam menghadapi sesama anak bangsa. Itulah sebabnya penguasa Orde Baru bisa berkuasa sedemikian lama dan dalam arti tertentu juga penguasa Orde Lama. Kalau Orde Lama terkenal  dengan demokrasi terpimpinnya yang tidak membiarkan rakyat menikmati kemerdekaannya secara penuh, Orde Baru sangat terkenal dengan sikap represif dan otoriternya terlebih terhadap mereka yang berbeda pemikiran dan ideologi. Hal ini sangat terang dalam penanganan kelompok masyarakat berideologi komunis pada awal Orde Baru. Disinyalir jutaan orang dibunuh tanpa proses peradilan dan jutaan orang lainnya yang diduga keturuanan dan terkait dengan komunis terus mengalami ketidak-adilan selama Orde Baru berkuasa. Tidak berhenti sampai di situ, hingga menjelang akhir Orde Baru banyak orang berbeda haluan ideologi dengan pemerintah dihilangkan secara paksa. Parade penindasan itu terus hidup hingga sekarang. Saat ini eskalasinya semakin meluas, warga menindas sesamanya yang lain yang berbeda dari dirinya..

Sejarah penindasan yang tiada akhir itu mewarisi dendam dan kebencian. Rantainya akan semakin panjang dan luka yang ditimbulkannya  akan semakin dalam jika tidak segera ditangani dengan baik secara nasional.

 Menyembuhkan luka memulihkan bangsa 

Masa depan bangsa kita ada di tangan kita. Kita yang mengontrol kehidupan kita sebagai bangsa sesuai keinginan kita sendiri (bdk Robert Pino, Absolute Victory). Bangsa seperti apa yang kita inginkan di masa depan itulah yang harus kita bangun sekarang. Untuk itu kita harus mempunyai sikap yang sama, kemauan yang sama dan visi yang sama tentang masa depan bangsa. Pemerintah dan siapa pun yang duduk di pemerintahan harus mempunyai visi yang jelas tentang masa depan bangsa yang diinginkannya. Sebab masa depan yang diimpikanlah yang sebetulnya menjadi faktor kunci dalam proses pembangunan bangsa saat ini, bukan masa lalu. Dan masa depan kita sebagai bangsa sudah terumuskan dengan jelas dalam pembukaan UUD tahun 1945 alinea ke-4.

Namun itu tidak berarti masa lalu tidak penting. Masa lalu penting sejauh kita melihat seluruh proses sejarah secara linier. Meminjam Rebert Pino, sekarang kita telah sampai pada masa yang dulu menjadi masa depan kita. Sekarang kita telah melihat terang yang menyinari masa lalu kita. Dan dari situ kita belajar untuk melihat terang masa depan kejadian-kejadian di masa kini. Tetapi membangun masa depan yang diinginkan tidak berdasarkan masa lalu kita, melainkan berdasarkan masa depan yang kita inginkan bersama.

Untuk itu yang harus dilakukan sekarang adalah memutuskan rantai dendam dan kebencian. Kita sepakat bahwa salah satu inti permasalahan masa lalu kita ada pada sosok Soeharto. Demi masa depan yang kita inginkan, sekaranglah saatnya kita menuntaskan semuanya, memutuskan rantai dendam dan kebencian yang masih tersisa dan mulai membangun semangat hidup yang baru sebagai bangsa demi masa depan yang diinginkan bersama.

Lepas dari berbagai polemik yang ada terhadap sosok Soeharto, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk menyembuhkan luka masa lalu sebagian anak bangsa sebagai akibat pilihan politik pemerintah di masa Orde Lama dan Orde Baru. Hal yang paling sederhana yang harus dilakukan pemerintah adalah mengakui kesalahan yang telah dilakukan pemerintah di masa lalu (sejak kemerdekaan hingga saat ini), memohon maaf kepada para korban dan kemudian memberi ganti rugi secara materiil dan pemulihan hak politik semua korban. Besarnya ganti rugi materiil bisa ditetapkan pemerintah sesuai kemampuan negara. Sedangkan pemulihan hak politk harus benar-benar menyentuh setiap lapis masyarakat yang telah menjadi korban antara lain dengan menghilangkan berbagai stigma dan prasangka yang hingga sekarang terus hidup baik di benak kalangan pemerintahan, militer maupun masyarakat luas yang ditandai dengan masih adanya prasangka dan kecurigaan terhadap sesama anak bangsa. Prosedur pelaksanaannya harus disepakati secara bersama-sama antara wakil-wakil rakyat dan pemerintah.

Sementara proses pemulihan ini dijalankan, kita bisa bicara tentang keadilan buat Soeharto. Proses pengadilan adalah cara yang paling tepat untuk itu. Tujuannya bukan pertama-tama untuk menghukun Soeharto tetapi agar beliau mendapat kepastian hukum dan namanya dipulihkan dan juga agar rasa keadilan masyarakat dipenuhi dan kita sebagai bangsa taat asas yakni persamaan kedudukan di depan hukum. Setelah proses pengadilan yang adil dan jujur dijalankan, kita bisa berbicara tentang kebesaran hati bangsa untuk mengampuni sesama anak bangsa yang telah menunjukkan darma baktinya untuk bangsa dan negara bilamana beliau terbukti bersalah.

Marilah kita mewujudkan masa depan yang kita inginkan sebagai bangsa dan memperjuangkannya mulai saat ini . Putuskan rantai dendam, wujudkan kesejahteraan, perdamaian dan keadilan bagi semua.


* Penulis adalah Pendidik pada sekolah High/Scope Indonesia, TB Simatupang, mengajar pelajaran Character, Cultural, and Community Development.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: