Make yourself happy

Februari 27, 2009

GURU DI ERA DIGITAL

Filed under: Pendidikan — maxibona @ 6:55 am

Schools are stuck in the 20th century. Students have rushed into the 21st. How can schools catch up and provide students with a relevant education? (Marc Prensky)
Menjadi guru di abad 21 (era digital) tidaklah sama dengan menjadi guru di abad 20 dan abad-abad sebelumnya. Dunia di mana kita hidup saat ini secara fisik dan teknologi telah berkembang lebih maju. Hal itu turut mempengaruhi cara manusia berada, berintearaksi, berrelasi, dan belajar.

Abad 21 adalah era digital. Di mana-mana orang mengggunakan peralatan digital. Mereka yang lahir paling tidak setelah tahun 1980-an adalah native speaker tekhnologi. Mereka fasih dalam menggunakan bahasa digital komputer, video games, internet, dan juga handphone. Mereka disebut digital native (DN). Sementara yang lahir sebelum tahun 1980-an disebut digital immigrant (DI) (paling tidak sebagiannya). Mereka mengadopsi banyak aspek dari tekhnologi. Tetapi seperti orang yang terlambat dalam belajar bahasa asing, mereka terkadang gagap dalam menggunakannya. Itu disebabkan karena paradigma yang mereka gunakan masih paradigma yang lama. Ambil contoh, ketika membeli hanphone atau camera digital yang baru, DI cenderung membaca buku manualnya terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Padahal, anak-anak digital native biasanya langsung menggunakannya sambil mendalami bagaimana cara mengoperasikan fitur-fiturnya.

Anak saya yang berumur 4 tahun misalnya, sangat antusias dalam menggunakan peralatan digital. Dia bisa menggunakan hanphone, mengoperasikan DVD player, atau camera digital secara mandiri (sebelumnya dia memperhatikan bagaimana kami mengoperasikan alat-alat itu). Hebatya, dia dapat melakukan semua itu sebelum dia dapat membaca. Malahan tanpa saya ajari, dia bisa mengoperasikan handphone Nseries saya hanya dengan melihat fitur tutorialnya terlebih dahulu. Itu pun dia temukan secara kebetulan ketika mencoba mengutak-ngatik handphone yang saya tinggalkan di meja. Dengan cara yang sama dia bisa menjalankan games yang ada di dalamnya. Tanpa memahami bahasa Inggris, dia mencoba menerjemahkan petunjuk how to play yang ada pada tiap-tiap game itu – seturut pemahamannya – berdasarkan simulasi yang dilihatnya.

Kondisi riil abad 21 membuat orang dewasa termasuk para guru yang datang dari dunia pra-digital kesulitan untuk membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak atau para siswa dari era digital. Kebiasaan dan cara mereka belajar pun tentu sangat berbeda dengan kebiasaan dan cara para guru dan orang tua mereka belajar. Hal ini sering membuat kedua belah pihak, murid di satu pihak dan guru dan orang tua di lain pihak, sama-sama fustrasi.

Yang kurang kita sadari adalah para murid yang kita hadapi setiap hari berbeda secara radikal dari kita. Mereka tidak cocok dengan system pendidikan (abad 20) yang kita rancang (Marc Prensky, On the Horizon, 2001). Ada begitu banyak ketidaknyambungan di sana-sini. Para murid – digital native – menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber-sumber multimedia, sementara para guru – digital immigrant – memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas (hanya menggunakan buku teks, misalnya). Para murid suka melakukan beberapa kegiatan sekaligus (misalkan menyelesaikan tugas-tugas sambil mendengar musik dari iPod), sementara gurunya menghendaki untuk melakukan satu hal saja pada satu waktu. Para murid lebih suka melihat gambar, mendengar bunyi (musik) dan melihat video terlebih dahulu sebelum melihat teksnya, sementara gurunya memberikan teksnya dulu sebelum menunjukkan gambarnya atau mendengar atau menonton videonya. Murid ingin mengakses informasi multimedia hyperlink secara acak, gurunya lebih menyukai menyediakan informasi secara linier, logis dan berurut. Murid menyukai interkasi secara simultan dengan banyak orang (siswa lainnya), gurunya menginginkan siswanya untuk bekerja secara independent. Murid menyukai pelajaran yang relevan, menarik dan dapat langsung digunakan (secara instant), gurunya ingin mengikuti kurikulum dan memenuhi standardisasi (Marc Prensky).

Guru Harus Disiapkan

Lingkungan di mana orang bertumbuh memberi dampak yang besar pada cara dia bersosialisasi, berinteraksi, dan belajar. Perbedaan pengalaman ternyata juga berpengaruh pada struktur otak. Dr. Bruce D. Berry (Baylor College of Medicine) dengan tegas mengatakan, “Different kinds of experiences lead to different brain structures”. Perbedaan ini tentu sangat berpengaruh pada cara orang belajar atau berinteraksi. Soalnya sekarang adalah siapkah para guru kita menghadapi perbedaan ini? Apakah lembaga-lembaga pendidikan guru kita telah bekerja dengan giat untuk mempersiapkan calon pendidik yang bisa menjawabi tuntutan kebutuhan anak didik DN?
Tentu saja benar bahwa tidak semua anak yang lahir di atas tahun 1980-an adalah DN. Karena akses terhadap tekhnologi serta penguasaan atasnya sangat menentukan apakah seseorang termasuk DN atau tidak. Dari segi itu maka fakta-fakta yang diungkapkan di atas bisa saja belum terjadi di semua tempat di tanah air. Namun itu tidak berarti kita masih boleh santai.
Kita semua tahu bahwa tekhnolgi berkembang dengan cepat. Internet menjadi semakin penting bagi masyarakat kita dari hari ke hari. Seperti yang kita saksikan di berbagai pelosok dunia, revolusi internet secara fundamental dan signifikan sangat berpengaruh terhadap politik, pendidikan, dan interaksi antar manusia.

Max Adil
(Mengajar di ‘Sinarmas World Academy’, BSD Tangerang).

November 12, 2007

Pendidikan

Filed under: Pendidikan — Tag:, — maxibona @ 9:57 am

Penilaian dan Evaluasi BelajarDitinjau dari Sistem Belajar Student Centered

Oleh Maksimus Adil*

 Abstrak 

Penilaian dan evaluasi belajar merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari seluruh proses pembelajaran. Model penilaian dan evaluasi belajar sangat dipengaruhi oleh filosofi yang dianut oleh masing-masing lembaga pendidikan. Suatu sistem penilaian dan evaluasi belajar harus dapat dipertanggung-jawabkan kepada tiap unsur yang terkait, seperti siswa, orang tua murid, dan bahkan masyarakat luas pada umumnya. Untuk itu penilaian terhadap hasil belajar siswa harus didukung oleh bukti-bukti yang kuat dan valid. Banyak piranti yang dapat dipakai oleh guru untuk menilai hasil belajar siswa. Sebut saja diantaranya adalah test dan kuis, project, report, presentasi, informal checks for understanding, anecdotal notes, dan lain sebagainya. Piranti yang dipakai untuk menilai hasil pekerjaan siswa haruslah sudah direncanakan bahkan sebelum guru men-design proses belajar yang diinginkan. Tolok ukur yang dipakai guru untuk menilai adalah rubric, di mana di dalamnya berisi kriteria yang mesti ada dan atau dicapai siswa dari setiap bentuk evaluasi yang diadakan. Untuk mempermudah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan sistem student centered dan kemudian dapat membuat evaluasi dan penilaian dengan baik, di sekolah High/Scope diterapkan suatu strategi yang disebut “Understanding by Design”. Salah satu aspeknya adalah konsep backward design, dimana kita sebagai guru mesti pertama-tama menentukan hasil yang diharapkan dari siswa dari suatu proses belajar sebelum menentukan proses belajarnya sendiri. Penilaian terhadap hasil belajar siswa mesti memperhiungkan keseluruhan proses yang mencakup tiga unsur, yakni produk, proses, dan progress.

 Pengantar 

            Hampir setiap tahun seusai mengadakan UN atau tepatnya setelah pengumuman hasil UN, bangsa kita selalu dilanda ‘prahara’ karena banyaknya siswa yang tidak berhasil dalam UN. Polemik hampir pasti menghiasi media-media nasional, baik cetak maupun elektronik. Umumnya berita yang mendominasi di media masa adalah kekecewaan siswa dan orang tua dan bahkan para guru akibat kegagalan beberapa siswa. Apalagi kalau diantara yang tidak lulus ada siswa berprestasi dan dianggap pintar.

Berbagai pandangan akan muncul ke permukaan, baik dari para pakar pendidikan maupun politisi. Fokus pembicaraan biasanya tentang kelemahan UN sampai pada validitasnya untuk menentukan seorang siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak dari jenjang pendidikan yang sudah digelutinya selama kurang-lebih 3 tahun. Di antaranya ada yang menuntut agar para guru di sekolah adalah satu-satunya pihak yang paling sah dan meyakinkan untuk menentukan kelulusan, karena merekalah yang mengenal anak didiknya.

            Makalah ini tidak bermaksud menjawab pertanyaan validitas atau tidaknya UN untuk menentukan kelulusan siswa. Makalah ini ditulis untuk menelaah lebih jauh bagaimana sistem penilaian yang memadai agar semua unsur yang terlibat dalam pendidikan dapat terpuaskan. Unsur-unsur yang terlibat dalam pendidikan tidak lain adalah siswa, guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah. Karena itu penilaian yang dilakukan di sekolah mesti fair dan dapat dipertanggung-jawabkan kepada para pihak itu. Artinya semua pihak memahami makna, isi, dan cakupan penilaian dari nilai yang diperoleh peserta didik yang dikuatkan dengan bukti-bukti yang memadai.

Filosofi Pembelajaran

            Penilaian dan evaluasi belajar hanyalah salah satu aspek dari sistem pembelajaran. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian integral dari keseluruhan proses belajar dalam ruangan kelas. Oleh karena itu penilaian dan evaluasi belajar sangat terkait dan dijiwai oleh filosofi yang dianut lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan.

Untuk mayoritas sekolah yang menganut sistem teachers-centered (menjadikan kurikulum sebagai pusat dari seluruh proses belajar), penuntasan materi yang diperintahkan oleh kurikulum menjadi hal yang utama. Untuk sekolah model ini hasil akhir dalam arti target pencapaian siswa menjadi satu-satunya yang penting. Di sini proses menjadi tidak terlalu penting, melainkan hasil akhir, yakni berapa nilai yang didapat siswa dari evaluasi belajar yang diadakan. Di pihak guru, yang penting target pengajaran (penuntasan materi) tercapai. Siswa mengerti atau tidak soal lain. Sistem belajar macam ini (teachers-centered) melihat belajar sebagai kompetisi dan bukan peziarahan, pergulatan atau pergumulan menuju penguasaan ilmu pengetahuan.

Selain sekolah model teachers-centered, saat ini muncul sekolah-sekolah yang memfokuskan proses belajarnya pada siswa (student-centered). Pada lembaga-lembaga pendidikan yang membangun sistem pendidikannya atas filosofi student-centered, peserta belajar (baca: siswa) menjadi pusat dari seluruh proses belajar, dan proses belajar itu sendiri sama pentingnya dengan hasil akhir yang diharapkan dari para siswa. Sekolah seperti ini berpegang pada semangat ‘learning is not a race but journey’. Siswa diajak untuk berziarah, berpetualang, bergumul secara pribadi menuju penguasaan ilmu pengetahuan. Dengan demikian peserta didik benar-benar dihargai sebagai pribadi, dibimbing sesuai kondisi dan kemampuannya yang khas, tidak terpenjara dalam hierarki pengelompokkan pintar – bodoh yang pada akhirnya membunuh rasa percaya diri, semangat belajar, dan pengabaian perjuangan khas masing-masing pribadi dalam keseluruhan proses belajar.

 Men-design Pemahaman Siswa

            Agar siswa dapat belajar maksimal, artinya terlibat secara penuh dalam seluruh proses pembelajaran, mengalami pergulatan (dalam arti sesungguhnya) untuk memahami pokok-pokok yang dipelajari dan akhirnya dapat menguasai ilmu pengetahuan, pelajaran harus di-design sedemikian rupa. Untuk dapat mencapai tujuan itu, sekolah High/Scope Indonesia (H/S) mencoba menerapkan suatu strategi yang dikenal dengan sebutan “understanding by design (UBD)”[1] dalam seluruh proses belajar pada setiap subject yang diajarkan. Hal ini dilakukan berdasarkan kesadaran bahwa tujuan dari proses belajar adalah mencapai pemahaman (understanding). Siswa memahami atau tepatnya menguasai ilmu yang dipelajarinya. Lebih dari itu agar siswa mendapatkan suatu penilaian yang otentik dan dapat dipertanggung-jawabkan pada tiap akhir term.

            Unsur utama dalam konsep ini adalah apa yang disebut sebagai backward design, yakni suatu pendekatan dalam merancang kurikulum atau pelajaran yang dimulai dengan tujuan yang ingin dicapai.[2] Ada tiga tahap utama[3] backward design:

Tahap pertama, Tentukan hasil yang diharapkan. Apa yang siswa harus ketahui, pahami, dan dapat lakukan setelah menyelesaiakn pokok tertentu.

Tahap kedua,  tentukan bukti-bukti yang dapat diterima. Pertanyaan pokok yang mesti dijawab di sini adalah bagaimana kita dapat ketahui jika siswa telah mencapai hasil yang diharapkan. Apa bukti-bukti yang kita harapkan untuk mendukung pemahaman siswa?

Tahap ketiga, tentukan instruksi dan proses belajar yang ingin diterapkan. Setelah kita memastikan hasil apa yang diharapkan dan bukti apa yang dapat menunjang pencapaian hasil itu, lalu kita tentukan bagaimana proses belajar harus dilaksanakan untuk mencapai sasaran itu.

            Gambaran kerangka berpikir dalam menyusun rencana pelajaran dengan menggunakan strategi UBD bagi guru[4] dapat dilukiskan sebagai berikut:

Stage 1 – Hasil yang diharapkan

Tentukan tujuan pembelajaran:                                                                                               G

·              apa tujuan yang ingin dicapai (misalnya pengetahuan yang ingin didapat (content), pencapaian yang lain-lainnya)

Pemahaman:                                                  USiswa dapat memahami bahwa…·              apa gagasan pokok·              pemahaman khusus apa yang diharapkan·              masalah-masalah yang mungkin muncul. Pertanyaan kunci:                                       Q

·          Pertanyaan pokok apa yang dapat diajukan untuk membantu penelitian lebih lanjut, pemahaman, dan transfer pengetahuan.

Siswa akan mengetahui …                               K·              pengetahuan dan skill apa yang siswa dapatkan sebagai hasil dari pelajaran ini·              apa yang mesti siswa dapat lakukan sebagai hasil dari pengetahuan atau skill yang ada Siswa dapat melakukan…                              S
Stage 2 – Bukti-bukti yang diharapkan
Performance Tasks:                                      T·              Project apa yang siswa dapat lakukan untuk menunjukkan pemahaman dan skill yang mereka kuasai.·              Kriteria apa yang akan digunakan untuk mengukur pemahaman siswa Bukti-bukti Lainnya:                                OE

  • Test
  • Presentasi
  • Anecdotal Notes, dll.
Stage 3 – Rencana Pelajaran

Aktivitas Pembelajaran:                                                                                                             L

Bagaimana proses pembelajaran dan isntruksi yang digunakan yang memungkinkan siswa mencapai hasil yang diharapkan. Bagaimana aktivitas pembelajaran itu dirancang?·              Kemana siswa akan dibawa dan apa yang diharapkan. Dari mana siswa akan berangkat (prior knowledge dan interest).·              Bagaimana menarik minat siswa?·              Bagaimana membantu siswa mengalami (terlibat) dan mengembangkan lebih lanjut materi yang diajarkan.·              Merancang kesempatan bagi siswa untuk memikirkan kembali, memperbaiki pemahaman atau pekerjaan mereka·              Mendorong siswa untuk mengevaluasi pekerjaan mereka dan melihat implikasinya·              Bagaimana mengakomodir perbedaan minat, kepentingan, dan kemampuan siswa·              Bagaimana merancang proses belajar yang efektif agar siswa dapat terlibat secara maksimal.

Kerangka berpikir seperti ini membantu guru dalam merencanakan proses belajar plus evaluasi macam apa yang akan mereka lakukan.

 Penilaian dan Evaluasi Belajar Sistem Student Center[5]

            Seperti yang telah disinggung di atas, penilaian dan evaluasi belajar tidak terpisahkan dari seluruh proses belajar. Karena itu, model atau bentuk penilaian dan evaluasi belajar harus sudah ditentukan sebelum merencanakan proses belajar di dalam kelas..

            Sebelum membahas lebih jauh tentang penilaian dan evaluasi belajar, baiklah terlebih dahulu dibicarakan apa saja model dan tujuan penilaian (assessment) dan evaluasi belajar. Evaluasi belajar umumnya dibagi atas dua bagian yakni formative assessment dan summative assessment. Formative assessment pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui bagaimana peserta didik belajar, apa yang telah mereka pelajari dengan baik, apa masalah atau kesulitan yang mereka alami dan apa bentuk perbaikan (corrective measures) yang diperlukan.[6] Karena itu formative assessment dapat dilakukan tiap hari dalam bentuk pretest, posttest, PR, weekly project, observation, anecdotal notes dan sebagainya.

            Dengan sistem pembelajaran student center, formative assessment mempunyai peran yang sangat strategis. Guru mendapatkan segala informasi yang diperlukan untuk dapat mendapingi masing-masing peserta didik sesuai dengan kondisi real mereka secara pribadi termasuk strategi perbaikan agar siswa dapat menguasi materi dengan baik. Persoalannya adalah apa yang terjadi bila ternyata tingkat pencapaian siswa ternyata berbeda? Diagram berikut diharapkan dapat memberikan gambaran. Perhatikan diagram berikut:

 Diagram 1:

Pel. Bab I

Formative Assessment A

Intervention Activities

Enrichment Activities

Pel. Bab II

Formative Assessment B

Pel. Bab I

Formative Assessment A

Intervention Activities

Enrichment Activities

Pel. Bab II

     

 Dari diagram 1 terlihat bahwa siswa dengan daya tangkap yang kurang diberi tambahan agar dapat memenuhi target yang diharapkan, sementara yang sudah mencapai target diberi enrichment activities untuk memperkaya pemahamannya atas pokok yang dipelajari.

Sementara summative assessment bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian siswa selama periode tertentu (per term atau smester). Bentuknya bisa berupa test summative, performance task atau kombinasi keduanya dari mana guru bisa melihat penguasaan siswa atas materi yang telah dipelajari selama term atau smester itu. Meskipun demikian summative assessment hanya berdaya guna jika didukung oleh formative assessment.

 Diagram 2

      1        2        3         4          5         6         7         8        9        10       11    12

Formative dan Summative Assessment Sequence
Summative assessment
Formative assessment à Intervention / Enrichment
Developing Report (Reporting)
Summative assessment
Formative dan Summative Assessment Sequence

             

           

        

Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa assessment membantu para pendidik mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam akan kemampuan belajar siswa dan kemudian mempermudah mereka (para pendidik) dalam mengkomunikasikan bukti-bukti hasil belajar siswa kepada para orang tua, rekan guru, peserta didik, dan masyarakat luas pada umumnya.

Adapun tentang penilaian dapat dikatakan bahwa penilaian akhir dilakukan dengan menganalisa berbagai bukti yang ada (yang didapat baik dari formative assessment maupun summative assessment) lalu memutuskan posisi akhir siswa dengan menggunakan parameter yang ada, tentu sesuai dengan persentase yang ditetapkan guru atau sekolah.[7] Summative Assessment tentu sangat berpengaruh untuk menentukan grade pencapaian siswa pada akhir term atau smester.

            Yang menjadi dasar dari penilaian yang baik adalah bukti yang baik dan memadai. Ada 3 kualitas untuk dapat menentukan memadai (baik) atau tidaknya bukti-bukti pendukung penilaian, yakni validity, reliability, dan quantity.

            Pertama, Validity. Mengacu pada kepatutan dan memadainya interpretasi yang dibuat berdasarkan informasi atau data yang tersedia. Kedua, Reliability. Mengacu pada kekonsistenan hasil assessment yang dilakukan. Konkretnya, siswa yang sama dapat memperoleh skor yang sama pada dua kesempatan test pada waktu yang berbeda atau mendapat score yang sama ketika dievaluasi oleh dua guru yang berbeda. Ketiga, Quantity. Menggunakan berbagai macam bukti yang dapat dipercaya.

            Lalu bagaimana bila terjadi ketidak-konsistenan bukti berkaitan dengan pencapaian siswa? Bila hal ini terjadi, beberapa hal dapat menjadi pertimbangan:

  1. Berikan prioritas pada data terbaru.
  2. Berikan prioritas pada data yang lebih komprehensif.
  3. Berikan prioritas pada bukti-bukti yang berkaitan dengan pencapaian standard atau tujuan pembelajaran yang paling penting.

  Piranti Penilaian dan Evaluasi Belajar

            Sejak merencanakan pelajaran, guru harus sudah menentukan hasil akhir yang diharapkan dari para siswa atas materi yang diajarkan dan apa saja piranti yang dipakai untuk penilaian[8]. Ada beberapa piranti yang bisa digunakan untuk mengevaluasi perkembangan belajar para siswa.

            Pertama, Informal checks for understanding. Mengecek pemahaman siswa secara informal dapat dilakukan dengan cara tanya-jawab ketika pelajaran sedang berlangsung, bisa juga dalam bentuk mengecek pemahaman siswa atas pekerjaannya sendiri lewat pertanyaan-pertanyaan, dan lain-lain. Observasi guru dan dialog dengan siswa masuk dalam kategori ini.  Informal check for understanding merupakan bagian integral dari proses pembelajaran bila kita menganut sistem ongoing assessment. Hasil observasi ini diharapkan dapat memberikan informasi yang memadai untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakter siswa.

            Kedua,  Tes dan kuis. Test ini sifatnya bisa mingguan atau dua mingguan. Bentuknya dapat berupa tes dengan jawaban singkat, benar-salah, jodohkan, atau pilihan ganda. Test bisa juga panjang dan melibatkan analisa. Test yang kedua ini bentuknya berupa open-ended question, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, tidak sekedar mengulang apa yang tertulis dalam buku (hafalan). Pertanyaan yang sifatnya open-ended membutuhkan jawaban yang sifatnya konstruktif, tidak hanya memiliki satu jawaban yang benar, menekankan pada strategi pemecahan masalah, menggunakan kemampuan analisis, sintesis, lalu kemudian mengevaluasi kembali hasil analisanya. Jadi pertanyaan yang sifatnya open-ended mesti menuntut jawaban yang teruraikan secara sistematis dan melibatkan argumentasi yang memadai. Test dan kuis mesti berfokus pada isi atau muatan pelajaran. Di sini yang kita assess adalah informasi factual, konsep, skill yang diharapkan diperoleh siswa dari materi itu.        

            Ketiga, Project. Project sifatnya sifatnya bisa short-term maupun long-term (bulanan atau satu smester). Project lebih merupakan pengaplikasian teori atau konsep yang didapat di sekolah dalam kasus-kasus konkret, dengan tujuan, audiens dan situasi yang tertentu. Pada level ini, siswa dimungkinkan untuk menggarap project yang sesuai dengan minatnya. Project yang diberikan kepada siswa dapat terintegrasi dengan pelajaran lainnya. Project dapat membantu guru untuk menilai sejauh mana siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapatnya, secara lintas ilmu. Misalnya antara penerapan pengetahuan berbahasa dan ilmu sosial, dan seterusnya.

            Selain ke-tiga piranti ini, kita juga masih memerlukan piranti-piranti lainnya. Di antaranya adalah anecdotal notes. Guru membuat catatan harian tentang apa yang dicapai siswa lebih khusus berkaitan dengan penguasaan materi pembelajaran atau aplikasi nilai-nilai dari materi yang diajarkan atau dipelajari. Anecdotal notes sifatnya individual atau per siswa.

            Pekerjaan rumah. Selain bermanfaat untuk melihat sejauh mana siswa dapat menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam mengerjakan PR-nya, PR juga membantu guru untuk mengukur keseriusan dan tanggung jawab siswa dalam belajar. Ketepatan waktu, kerapihan dan ketuntasan dalam mengerjakan PR dapat menjadi catatan guru. Agar maksimal, tentu saja komunikasi guru – orang tua sangat diharapkan untuk mendukung proses belajar siswa.

            Report. Report bisa menjadi bagian dari satu project, bisa juga menjadi bagian yang berdiri sendiri. Kelengkapan informasi, sistematika atau komposisi, dan lain-lain menjadi hal yang diperhatikan dalam pengerjaan report. Sekali lagi report dapat terintegrasi dengan pelajaran lain.

            Presentasi. Siswa yang sungguh menguasai pokok pembelajaran dapat diketahui lewat kemampuan presentasinya. Kendati demikian, harus juga diperhatikan karakter masing-masing siswa. Misalkan ada siswa yang sungguh menguasai materi tetapi sulit mengkomunikasikannya lewat presentasi. Karen itu guru harus mengenal karakter masing-masing siswanya.

            Student self assessment. Hal ini jarang dilakukan di sekolah-sekolah yang semata-mata mengejar penuntasan kurikulum dalam proses belajarnya. Student self assessment bermanfaat untuk mendapat umpan balik dari para siswa. Siswa menilai dirinya sendiri sejauh mana dia telah menguasai materi yang telah diajarkan atau dipelajari.

            Piranti penilaian ini digunakan sesuai kebutuhan saja. Tidak perlu dipakai sekaligus secara bersama dalam satu kesatuan waktu untuk satu pokok materi pelajaran. Guru menentukan kira-kira piranti mana yang dapat digunakan.

            Persoalannya adalah bagaimana cara mengukur yang memadai untuk menentukan pencapaian siswa? Untuk test yang bisa langsung diberi skor seperti matematika atau test yang sifatnya rutin harian, tidak terlalu sulit, karena guru bisa dengan mudah memberi skor yang sesuai. Untuk test yang sifatnya kualitatif seperti project, presentasi, report, dan lain-lain, guru perlu menyiapkan satu piranti lagi yang disebut rubrik. Rubrik adalah suatu piranti atau dokumen yang perlu disiapkan guru. Rubrik berisi artikulasi atau gambaran atau batasan pencapaian siswa yang diharapakan dari tugas atau test.[9] Dalam rubrik ditampilkan kriteria-kriteria yang diharapkan ada dalam pekerjaan siswa, atau pencapaian yang diharapkan dari satu test.

            Berikut sebuah contoh rubrik:

Rubrik Grafik Data[10]

Score

Judul Label Akurasi Kerapian
10% 20% 50% 20%
3 Judul menggambarkan dengan jelas tentang data apa yang ditampilkan Semua bagian grafik (kolom, baris, atau ukuran) ditandai dengan jelas Data dalam grafik ditampilkan secara akurat Grafiknya rapi dan mudah untuk dimengerti
2 Judul menggambarkan secara umum tentang data yang ditampilkan Ada bagian grafik yang tidak ditandai dengan benar Data yang ditampilkan  mengandung kesalahan kecil Umumnya rapi dan dapat dipahami
1 Judul tidak menggambarkan isi data atau tidak ada judul Hanya beberapa bagian grafik yang ditandai dengan benar Data tidak akurat, banyak kesalahan, atau data tidak lengkap Tidak rapih dan sulit dimengerti

            Bagaimanapun, dari pengalaman, kita menyadari bahwa test-test yang biasa saja tidak lagi memadai untuk membantu siswa siap menghadapi tantangan yang konkret dalam kehidupan. Sekolah diharapka dapat membantu siswa untuk mengembangkan skill dan kompetensinya untuk menghadapi kehidupan yang nyata, situasi yang “terberi” di hadapan mereka. Siswa yang bisa memperlihatkan skill dan kompetensinya, tentu saja lewat piranti yang disebutkan di atas, daripada ‘sekedar’ lulus ujian nasional, layak untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah digelutinya selama kurang lebih tiga tahun. Dan akhirnya kesuksesan suatu lembaga pendidikan diukur dari sejauh mana siswa menguasai pengetahuan, skill, didukung oleh sikap dan tigkah laku yang terpuji.

  Penilaian Akhir

            Setelah melihat uraian di atas, kita dapat tegaskan bahwa dalam sistem student center beberapa hal harus diperhatikan dalam melakukan penilaian. Pertama, Produk. Fokus pada apa yang siswa telah ketahui dan dapat lakukan. Yang termasuk dalam produk adalah hasil test akhir, report, project, proyek laboratorium, presentasi. Alat ukur yang dipakai adalah rubric-akademik dan / atau pekerjaan siswa.

Kedua, Proses. Fokus pada bagaimana siswa sampai pada pencapaian yang diharapkan. Yang termasuk dalam proses adalah kuis (formative), sikap dan tingkah laku di kelas, journal, PR (tingkat penyelesaian dan kualitasnya – dinilai berdasarkan rubric), keaktifan di kelas, usaha, kerapian dalam menyelesaikan pekerjaan. Alat ukur yang dipakai untuk penilaian adalah rubric-proses, checklist dan / atau anecdotal notes.

Ketiga, Progress. Fokus pada berapa banyak siswa telah peroleh dari proses belajar yang dilakukan. Di sini kita membutuhkan portfolio yang menggambarkan perkembangan belajar siswa sepanjang term, smester, dan bahkan tahun.

            Penilaian atau tingkat pencapaian siswa ditentukan berdasarkan analisa keseluruhan kriteria yang ada, dengan memberi porsi penentuan yang lebih besar pada hasil summative assessment. Sebab dari hasil akhir itulah guru dapat mengetahui di mana posisi siswa setelah melewati satu term atau smester. Dalam sistem High / Scope, grade pencapaian akademik ditentukan berdasarkan krieria  berikut:

                        Level                                     Kode         Tingkat Pencapaian

Introducing / need improvement   ( I )                  : <50 %

Progressing / shows improvement ( P )                 : 50 – 79 %

Mastering / Satisfactory                           ( M )                : >= 80 %          Kesimpulan

            Kita telah melihat bahwa penilaian dan evaluasi belajar terintegrasi secara total dengan seluruh proses belajar. Penilaian dan evaluasi belajar bukan suatu hal yang berdiri sendiri.

            Pada lembaga pendidikan yang menganut sistem student center, perkembangan masing-masing siswa menjadi pokok perhatian, bukan semata-mata ketuntasan kurikulum, meskipun ketuntasan tetap perlu diperhatikan.

            Untuk dapat memberikan penilaian yang memadai, kita perlu mengumpulkan bukti yang otentik dalam arti kita merancang sedemikian rupa hasil macam apa yang kita inginkan dan bagaimana strategi untuk mendapatkan hasil seperti itu. Apa produk yang mesti dibuat siswa agar kita dapat mengetahui bahwa mereka telah menguasai pokok yang telah dipelajari.

            Dan yang terpenting adalah nilai yang diperoleh siswa harus dapat dipertanggung jawabkan, dalam arti didukung oleh bukti-bukti yang kuat dan memadai. Lebih dari itu siswa itu sendiri diharapkan dapat mempertanggung-jawabkan pencapaiannya lewat pengatahuan, sikap, tingkah laku dan skill yang dimilikinya dalam menghadapi hidup konkret beserta tantangannya di tengah masyarakat.

  Daftar Bacaan 

·              Module Teachers Training High/Scope Indonesia. July 2006

·              Grant Wiggins and Jay McTighe, Understanding by Design, ASCD, Virginia, USA, 2005

·              Grant Wiggins and Jay McTighe, Understanding by Design Profesional Development Workbook, ASCD, Virginia, USA, 2005

·              Stephen R. Covey, “The 7 Habits of Highly Effective People, 1998

·              Heidi Andarde, and Ying Du, Practical Assessment, Research, & Evaluation (PARE), Volume 10 Number 3, April 2005

·              Sumber-sumber pendukung lain dari internet.


[1] Untuk mendalami lebih jauh tentang konsep ini, lih. Grant Wiggins and Jay McTighe, Understanding by Design, ASCD (Association for Supervision and Curriculum Development), Alexandria, Virginia USA, thn. 2005.

[2] Tentang hal ini Stephen R. Covey mengatakan, “To begin with the end in mind means to start with a clear understanding of your destination. It means to know to know where you’re going so that you better understand where you are now so that the steps you take are always in the right direction.” Lih. Stephen R. Covey, “The 7 Habits of Highly Effective People, 1998, p. 98. Baca juga Grant Wiggins and Jay McTighe, idem. hal. 338.

[3] lih. Tahap-tahap backward design, Grant Wiggans and Jay McTighe, idem. hlm 17-34.

[4] Lih. Grant Wiggins and Jay McTighee, ibid., hal. 22

[5] Hampir seluruh bahan kajian pada bagian ini diambil dari materi Teachers Training High/Scope Indonesia, July 2006.

[6]Idem..

[7] Gambaran konkret tentang penilian akan diuraikan pada bagaian akhir tulisan ini

[8] Soal penentuan hasil akhir, akan dibahas lebih lanjut pada bagian terakhir tulisan ini.

[9] Bdk. Heidi Andarde, and Ying Du, Practical Assessment, Research, & Evaluation (PARE), Volume 10 Number 3, April 2005

[10] Rubrik ini dielaborasi dari buku karangan Grant Wiggins and Jay McTighe, Understanding by Design Profesional Development Workbook, hlm 183. Contoh grafik yang dipakai penulis terlampir di hard copy tulisan ini.


*  Penulis adalah pengajar pada sekolah High/Scope Indonesia TB Simatupang, mengajar pelajaran Character, Cultural, and Community Development dan Pelajaran Agama Katolik untuk Middle School, alumnus STF Driyarkara.

Oktober 23, 2007

Mass Media: Types and Influences

Filed under: Pendidikan, Uncategorized — Tag:, , — maxibona @ 3:37 am

This writing below I made for my students. The idea of the writing not originally mine, but I got from many sources. Mostly from Father Yos Lalu Pr’s book ‘PAK bagi SMU’. May it can helful for us to discuss.

Mass Media: Types and Influences 

Mass media has become an integral part of our lives and can not be separated from our life. Particularly for the urban people, the need for information is more important than ever. Our values and way of life in the society in this information era are strongly influenced by the mass media like newspapers, TV, radio, video, and the internet. Mass media’s influence on people’s lives is even greater and deeper than many kinds of state indoctrination or priest’s sermons from the pulpit in the church .The full range of unfiltered media is now available to most of us by using a parabola and satellite transmission. We can buy many kinds of videos freely. Access to the internet is easy and inexpensive almost everywhere. We can find many kinds of information using the internet technology..It is worth remembering that there have been three important revolutions in recent history, i.e. agrarian revolution in farming, industry revolution in mass production and information revolution that provides global access. We are now in the midst of the information revolution. Due to continuing developments in media technology, we are flooded by a huge volume of non-stop information. Most of this information comes to us without a filter or censor. The information can be positive and negative. It is important for all, and particularly teenagers, to be able to look critically at the information and the sources and make positive choices. Having a critical attitude means that we can distinguish between positive and negative information and make choices that will give us information that will benefit us and our society,  Below are some things we can do to develop our ability to think critically:

ü      Reading regularly

ü      Attend a variety of training sessions on media, if any

ü      Practice to viewing media critically

ü      Ask and learn from the experts or mature and experienced people

ü      Read the Bible regularly

ü      Do daily reflection

ü      Attend Sunday mass or worship regularly

ü      Etc. 

Mass Media’s Influences

The research from the US tells us how many teenagers’ lives are seriously troubled. The results of the research show us that 43 % of teens in the US have used drugs and alcohol at least once. Around 1 million teens have left their homes and a half of them live as delinquent (naughty) boys and girls and the other half are drug users. About 2,000 teens from the age of 10 to 19 years old commit to suicide each year. Most of them come from wealthy families that are not harmonious. There is no love, caring and acceptance in those families.Many teens make all of their own choices about the media they use. No one guides them or restricts them from accessing any type of information that they choose.. Everything is allowed. Then the kids grow up and become people who are out of control.. They feel mature enough to make decisions on their own. Many forms of authority, rules, and norms are seen as an obstacle to their freedom and so, should not be followed. Ethics and morality are not really important for them. For many violence, crimes and sex are their daily life and concern. The research from the 1980s in the US shows us that teenagers between 16 and18 years old are wasting up to 16,000 hours of their time per year watching TV. In the same period, the violence and crime in US grew by 293 %. Times weekly magazine reported that the frequency of crimes committed by students in New York per month was the same as that committed by Japanese teenagers of the same age in a year.Here are some positive and negative influences of mass media on our lives:

C Positive Influences

Positive influences of mass media can be seen from several aspects or points of view:

  1. From media technology side itself
  2. From the side of the owner and sponsor of the media
  3. Unintended influences of the media technology and sponsors

a.            The influences of  media technology

Ø            Media technology makes the reduces the distance between human beings. The world is smaller due to increased communication and access to information.It makes human being closer to each other in terms of space and thinking. We are exposed to a broad range of ideas and thought from all kinds of people from all over the world.

Ø            Media technologies allows us as to take part ‘virtually’ in occasions and activities in other parts of the world. Through the  media we know immediately about earthquakes, tsunamis, avian influenza outbreaks, etc that strike any areaon earth. We know about the results of champions league which is tacking place far away in Europe.

Ø            It allows us to learn more easily and faster by using the internet.

Ø            It help us to get the best results of pictures and sounds.

b.                  The Influences of the owner and sponsor

Ø            Men can use the media to create and invite the people concerned with certain world issues like AIDS, drug abuse, mass killing, totalitarian government, etc.

Ø            Media can help to create a positive  and educated opinion. Media can be used to fight for freedom, truth and justice.

Ø            Media can help us to relax by listening music, dance, etc.

c.                   Unrealized influence of media.

Ø            Media can create a new cultures

Ø            Media can changes people’s way of thinking about life, culture, existence,etc. 

D           Negative Influence of Media

a.             Negative influences caused by the media technology itself:

ü            Information is power and those who control the media empires have great power and a great responsibility to use that power positively. Those who have power over the media have real power in the modern world.

ü            Media could create new cultures which change the old and original ones from the community. This could be both good and bad

b.            Negative Influences that caused by the owner and sponsor

ü            Media is business. In order to exist media providers must make a profit. The owners and sponsors tend to create a media environment that is driven by materialism, consumerism, and hedonism.

ü            Media can create the wrong perception of prosperity. Prosperity is made out to be having an excess of material goods (cars, houses, jewelry, etc). Men are not measured by their character and dedication but by what things they have in life .It is promoted by advertising in most kinds of media.

ü            Media can create stereotypes of beauty and style which is then imitated by citizens, like fashion and hairstyles, for instance.

ü            Media can create a sensation of sex, violence, and horror which may be popular with the audience.

ü            The owner, ruler, and media sponsor can make up any trick for their own business and politics interest.

c.             Unrealized negative influence of media

ü            People’s daily schedules and work schedules can be interrupted if most of our time is used by listening to music or watching TV. Communications between family members can also be reduced.

ü            Sex addiction and violence has a close relationship to TV shows, movies and videos or chatting via internet or HP

ü            The trend towards urbanization creates a constant flow of people coming from the villages to the city and is at least partly caused by the unrealistic glamour of urban life as shown on TV.

Mr. Maxifrom many sources.

(The writer is alumni of STF Driyarkara, Jakarta; Now teach ‘Character, Cultural, and Community Development at Sekolah High/Scope Indonesia TB. Simatupang, South Jakarta).

November 26, 2006

Bangsa yang Berpikir Pendek

Filed under: Pendidikan — maxibona @ 8:43 am

Tulisan berikut merupakan suatu refleksi pribadi atas sikap, tindakan, dan atau prilaku para pemimpin dan rakyat negeri ini. Semoga bermanfaat.

Bangsa yang Berpikir Pendek

Sebuah Renungan dan Kritik

Oleh Maksimus Adil* 

Membaca kompas edisi Jumat 31 Maret 2006 pada halaman 4 khususnya tulisan Ikrar Nusa Bhakti tentang ‘Nasionalisme Kesiangan’ dan tulisan Alfons Taryadi pada halaman 15 tentang ‘Refleksi’ sangat mencerahkan. Jika dibaca dengan pikiran yang terbuka kita akan menemukan bahwa kedua tulisan ini berhubungan satu sama lain. Memang harus diakui bahwa tulisan Alfons tentang refleksi hendak menanggapi kenyataan yang berbeda dibandingkan dengan tulisan Ikrar. Tetapi isi yang mau disampaikan oleh Alfons sebetulnya menjadi sarana untuk dapat melakukan sebuah permenungan agar bisa menjawab beberapa pertanyaan yang menggugat pada tiga alinea terakhir pada tulisan Ikrar.

Refleksi dalam arti suatu kegiatan mental yang melakukan ‘renungan secara mendalam’ atau ‘kontemplasi introspektif atas isi kualitas gagasan atau pengalaman sendiri (dan orang lain atau bangsa: penulis) yang teringat’ (lih. Alfons Taryadi) merupakan kunci untuk dapat merancang sebuah aksi perbaikan menuju sesuatu yang lebih baik di hari esok. Berdasarkan pemahaman ini, sebetulnya refleksi dalam pijit refleksi juga mempunyai nuansa yang sama. Selain adanya rasa sakit (yang diterima dengan rela demi kesembuhan akibat titik-titik syaraf di tangan atau kaki yang ditekan oleh tukan pijit, dan sakitnya menemukan kenyataan yang pahit yang telah dialami ketika melakukan sebuah kegiatan mental untuk melakukan renungan secara mendalam), juga ada kesamaan dalam metode.

Dalam pijit refleksi, tukang pijit mencoba menemukan titik syaraf yang terganggu pada telapak tangan atau kaki untuk dipijit agar menyembuhkan pasiennya.
Ada upaya mencari akar permasalahan, tidak asal tekan atau pencet, apalagi mencoba tekan langsung pada area yang terasa sakit. Sementara refleksi yang berarti kegiatan mental tadi, mempunyai tujuan yang sama. Perefleksi mencoba merenung, melihat ke kedalaman dirinya untuk menemukan kembali, mengevaluasi, menilai dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Di situ ada upaya merajut kembali pengalaman, untuk kemudian mencoba mencari jalan keluar bila ternyata ada masalah demi perbaikan di hari esok.

Refleksi adalah kegiatan yang sangat sederhana, tetapi sulit. Bagi orang yang terbiasa melakukannya, refleksi bukan hal yang susah. Kita cukup duduk, melihat ke dalam diri, menilik kembali semua yang telah atau sedang akan berlalu. Tetapi bagi orang yang belum pernah melakukannya, refleksi itu sesuatu yang sukar. Hampir pasti orang-orang bijak adalah orang-orang yang terbiasa melakukan refleksi. Kebiasaan merefleksi, membuat mereka tidak pernah gegabah dalam menanggapi sesuatu. Mereka sangat tenang, dan selalu mencoba melihat akar permasalahan dari persoalan yang dihadapi. Karena itu, mereka juga umumnya bukan orang yang emosional dan reaktif.

Orang yang belum pernah atau bahkan tidak tahu bagaimana melakukan refleksi pasti bukan orang bijak. Orang-orang ini cenderung emosional, mereka tidak terbiasa mengolah pengalaman dirinya, apalagi mencoba mengolah pengalaman orang lain untuk menjadi pelajaran bagi dirinya. Orang-orang ini cenderung reaktif, berpikir pendek dan suka mengambil jalan pintas dalam melakukan sesuatu. Mereka ibarat tukang pijat amatiran dan bodoh, yang mencoba memijat tubuh pasiennya langsung pada area yang sakit. Kita semua tahu apa akibatnya bila dipijit oleh tukang pijat bodoh dan amatiran seperti itu. Bukannya kesembuhan dan rasa lega yang akan diterima tubuh setelah dipijit melainkan rasa sakit yang bertambah parah.

Rakyat
Indonesia, mulai dari yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi, dari orang desa sampai yang di kota-kota besar, dari pejabat setingkat RT sampai politisi di Senayan, dari papalele di kampung-kampung sampai para konglomerat, lebih banyak yang tidak bijak. Termasuk di dalam kelompok ini adalah mereka yang dikatakan oleh Ikrar sebagai pahlawan kesiangan.

Indikasi itu sangat terang benderang. Lihat saja produk RUU yang dibuat DPR bersama pemerintah. Ambil contoh RUU APP dan revisi UU No 13 Tahun 2003 yang mengatur ketenagakerjaan. Tujuan dari diterbitkannya RUU APP adalah untuk menyelamatkan generasi muda dan menjaga moral bangsa. Namun isi dari RUU APP itu jauh dari memadai untuk mengatasi masalah keterpurukan moral yang kita hadapi, belum lagi persoalan lain seperti tidak terakomodirnya budaya dan kearifan local dalam RUU APP itu.

Revisi UU No 13 tahun 2003 bertujuan untuk mengatasi masalah 10 juta penganggur yang ada sekarang ini. Demikian kata Menakertrans Erman Suparno. Konon, setelah revisi UU ini para pengusaha bisa menampung 10 juta penganggur yang ada saat ini. (Kompas 31 Maret 2006). Pertanyaannya adalah benarkah demikian? Apakah revisi UU No 13 tahun 2003 otomatis dapat menyelesaikan masalah pengangguran? Tidak ada yang bisa menjamin! Padahal di lain pihak, revisi itu jelas-jelas merugikan para pekerja dan akan memberi rasa tidak aman bagi mereka dalam berkarya.

Perlu belajar merefleksi

Refleksi tentu bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi harus kita akui, kemampuan merefleksi merupakan kemampuan dasar untuk dapat terus memperbaiki diri. Kemampuan merefleksi juga membantu kita untuk tidak berpikir pendek, karena refleksi mendorong kita untuk terus bertanya, mengevaluasi, menilai dan akhirnya menemukan kebenaran atau melahirkan keputusan yang lebih baik. Refleksi membantu kita untuk sabar, bijak, dan mau berpikir panjang.

Kita perlu belajar untuk melakukan refleksi. Kurikulum pendidikan kita perlu memberi raung kepada anak didik untuk melakukan refleksi secara rutin. Bila perlu dalam sekian jam pelajaran dalam sehari, dialokasikan sekian menit untuk melakukan refleksi. Kewajiban untuk menulis buku harian juga bisa sangat membantu untuk mulai melakukan refleksi.

Bila semua anak didik dan elemen lain bangsa ini sudah mempunyai kemampuan ini, niscaya kita bisa menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang menggugat dari Ikrar Nusa Bhakti dan tidak akan ada lagi orang yang menjadi pahlawan kesiangan melainkan pahlawan sesungguhnya untuk kepentingan bangsa dan Negara.

Bintaro, 1 April 2006


* Penulis adalah alumnus STF Driyarkara dan Pengajar Pelajaran Character, Cultural, and Community Development pada Sekolah High/Scope Indonesia, TB Simatupang.

UN: Biarkan Siswa Belajar dari Kegagalan

Filed under: Pendidikan — maxibona @ 8:34 am

Tulisan berikut merupakan komentar saya tentang polemik seputar UN yang karena hasilnya banyak yang tidak lulus dipersoalkan orang. Pandangan ini tentu saja tidak bermaksud mendukung Pak Yusuf Kalla yang mengatakan, “kalau dalam suatu ujian Nasional ada yang tidak lulus, itu bukan ujian”. Bagi saya yang terpenting adalah siswa dapat belajar bahwa bial mereka tidak serius dalam belajar dan kalau mau ditarik lebih jauh, tidak serius dalam melaksanakan tugasnya, maka kegagalan adalah buah yang akan dipetik. Selamat membaca.

 

UN: Biarkan Siswa Belajar Dari KegagalanOleh Maksimus Adil*

Polemik seputar hasil UN tahun 2006 ini membangkitkan kembali kepedihan yang pernah penulis rasakan tahun lalu, ketika seorang adik yang saya biayayi sekolahnya selama 3 tahun dari kekurangan dinyatakan tidak lulus. Kepedihan itu terasa menusuk dalam karena yang bersangkutan selalu masuk ranking dua besar sejak kelas I. Beliau termasuk anak yang tekun belajar. Setiap waktu kosong dimanfaatkannya untuk membaca. Dia juga bukan tipe anak yang sombong dengan pencapaiannya di kelas. Karena kepribadiannya yang baik, banyak teman sekelasnya datang ke rumah untuk belajar bersama. Dia selalu menjadi mentor yang membantu teman-temannya dalam studi kelompok itu. Hampir semua teman belajar kelompoknya lulus ujian, sementara adik saya yang telah menjadi mentor mereka tidak lulus. Teman-teman belajarnya terkejut ketika mengetahui bahwa mentor mereka yang langganan juara kelas itu gagal lulus dalam kesempatan pertama. Untungnya, tahun lalu ada ujian perbaikan, sehingga akhirnya dia bisa lulus juga.

Pada tahun ini hal yang sama terjadi lagi. Banyak anak yang cerdas tidak lulus. Celakanya, pemerintah jauh-jauh hari sebelumnya telah menyatakan bahwa tidak ada UN perbaikan. Maka kalau tidak lulus UN berarti harus ulang pada tahun berikutnya untuk mendapatkan ijasah SMU. Inilah alasan utama mengapa ada demo di mana-mana.
Para siswa yang gagal lulus beserta orang tuanya mencoba lobi ke mana-mana agar diberi kesempatan untuk ujian perbaikan. Rupanya waktu satu tahun tambahan untuk menunggu kesempatan ujian berikutnya terlalu lama dan mahal, maka segala upaya dilakukan agar pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, mengubah keputusannya dan memberi kesempatan untuk UN perbaikan.

Argumentasi Penolakan UN

Menarik untuk disimak komentar banyak pihak berkaitan dengan UN ini. Paling tidak ada 3 argumentasi menolak UN yang menggelitik. Pertama, yang mengatakan bahwa kegagalan dalam satu pelajaran saja telah membuat kerja keras siswa, orang tua, dan guru selama 3 tahun menjadi sia-sia dan tidak dihargai. Kedua, yang mengatakan bahwa UN tidak bisa diterima sebagai faktor penentu kelulusan karena yang mengetahui dengan baik keadaan murid adalah para guru, jadi seharusnya gurulah yang tepat untuk menentu kelulusan siswa. Ketiga, yang mengatakan bahwa UN yang menekankan keseragaman merupakan bukti ketidak-adilan yang diterapkan pemerintah, karena tidak memperhitungkan kondisi yang berbeda-beda yang dialami oleh berbagai sekolah di seluruh tanah air.

Argumentasi-argumentasi di atas semuanya benar, tetapi juga ada keliruya. Argumentasi pertama mengandaikan bahwa selama 3 tahun di bangku sekolah menengah semua siswa, guru dan orang tua murid telah sama-sama bekerja keras. Dalam kenyataannya tidak selalu begitu. Sebagai tenaga pendidik, penulis mengetahui dengan benar bahwa tidak sedikit anak didik yang memang tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Datang ke sekolah hanya sekedar untuk menyetor muka. Pikirannya tidak dibawa serta ke sekolah, entah ditinggalkan di mana. Sementara orang tua murid juga banyak yang tidak peduli dengan perkembangan anaknya di sekolah. Mereka tidak mau tau apa anaknya belajar atau tidak. Yang penting saya mencari banyak uang, memasukkan anak saya di sekolah unggulan, dan membayar kewajiban bulanan saya ke sekolah. Seolah-olah tanggu jawabnya hanya sebatas itu dan sisanya urusan guru.

Argumentasi kedua juga benar. Guru mengetahui dengan baik keadaan siswanya. Tetapi kalau tugas untuk menentukan kelulusan diserahkan sepenuhnya kepada para guru, maka akan muncul bahaya lainnya. Guru bisa menjadi ‘raja-raja’ kecil di sekolah. Mereka – sebagai manusia biasa – bisa berlaku tidak adil atau bahkan bisa dimanfaatkan oleh sebagian murid yang mampu, entah dengan menyogok atau tindakan tidak terpuji lainnya. Kualitas kelulusan juga tidak bisa terjamin karena perbedaan sumber daya guru di berbagai daerah. Guru juga – dengan system itu – bisa tidak terpacu untuk terus meningkatkan kualitas dirinya.

Argumentasi ketiga benar adanya. Apalagi kalau tim penyusun soal UN bukan orang yang terjun ke lapangan dan memahami kondisi pendidikan di berbagai daerah. Mereka bisa saja menyusun soal yang bahkan di daerah tertentu di
Indonesia ini, karena keterbatasan yang ada, belum diajarkan. Maka anak didik pasti sangat dirugikan. Di sinilah dibutuhkan kerja keras dari pihak Diknas untuk benar-benar memantau kondisi di lapangan dan terus giat untuk memperbaiki kekurangan yang ada, agar mutu pendidikan di seluruh tanah air bisa benar-benar merata.

Belajar dari Kegagalan

Kita tetap memerlukan suatu system yang memadai untuk mengukur kualitas pendidikan kita. Salah satunya adalah ujian yang berskala nasional. Kalau UN yang sekarang belum memadai, seyogyanya untuk diperbaiki agar lebih terjamin validitasnya.

Kendati demikian, kegagalan yang dialami beberapa siswa yang berprestasi tidak perlu menjadi dasar argumentasi untuk menilai bahwa UN yang baru lalu tidak dapat diterima sebagai salah satu factor untuk menentukan kelulusan siswa. Kegagalan adalah bagian integral dari hidup manusia. Siapa pun pasti akan pernah mengalami kegagalan. Dari pengalaman kita belajar bahwa ternyata kerja keras atau kecerdasan saja tidak cukup untuk menggapai kesuksesan. Sikap percaya diri berlebihan dan cenderung menganggap remeh bisa membawa bumerang bagi kita. Dan bukan tidak mungkin sikap itu yang menyebabkan beberapa siswa berprestasi gagal dalam UN kali ini. Mereka terlena karena sudah diterima di universitas ternama dan bahkan mendapat beasiswa ke luar negeri, tetapi mereka lupa bahwa mereka masih harus belajar keras supaya bisa lulus UN. Adik saya yang gagal lulus tahun lalu pun saya kira jatuh pada kesalahan itu.

Diharapkan kegagalan yang mereka alami sekarang bisa membantu mereka untuk lebih baik di kemudian hari dan membuka mata mereka bahwa inilah hidup. Kelalaian kecil saja bisa membawa celaka, penyesalan yang dalam dan kehilangan banyak kesempatan. Anak-anak yang kali ini gagal dalam UN diharapkan dapat belajar bahwa konsistensi, baik dalam hal kerja keras, ketekunan, keterbukaan, dan hormat yang tinggi terhadap belajar itu sendiri sangat diperlukan dalam hidup ini. Kemampuan untuk melihat makna dibalik kegagalan adalah bagian dari sukses pendidikan di sekolah dan itu adalah sekolah itu sendiri, sekolah kehidupan.

Di sini kita melihat bahwa urusan pendidikan bukan urusan yang mudah. Jangan pernah melihat masalah pendidikan secara linier saja, kalau P maka Q. Ada berbagai aspek yang mesti diperhitungkan ketika kita mempersoalkan sesuatu, apalagi yang berkaitan dengan pendidikan. Dan kita berharap, Depdiknas sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung terhadap masalah pendidikan di tanah air terus berbenah diri untuk dapat menghasilkan system penentuan standard yang memadai dan diterima oleh banyak pihak.

 


* Penulis adalah seorang pendidik pada Sekolah High/Scope Indonesia, TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Polemik Seputar Hak Pilih TNI

Filed under: Blogroll, Demokrasi, HAM, Pendidikan — maxibona @ 8:22 am

Tulisan ini dibuat sebagai renungan pribadi atas polemik boleh atau tidak TNI ikut memilih dalam pemilu yang akan datang. Bagi saya bukan sekedar masalah boleh atau tidaknya. Yang terpenting adalah nilai dibalik gagasan bahwa TNI jangan ikut memilih seperti yang telah dilaksanakan selama ini. Biarkan TNI tidak memilih, dan itu mesti dilihat sebagai wujud pengorbanan demi kepentingan yang lebih besar, yakni utuhnya negara kesatuan Republik Indonesia ini.

Polemik Seputar Hak Pilih TNI

Maksimus AdilÕ

Polemik seputar boleh atau tidaknya TNI menggunakan hak pilihnya pada pemilu tahun 2009 terus bergerak liar. Para pengamat politik maupun pejabat negara baik sipil maupun militer masing-masing memberikan argumentasinya untuk mendukung maupun menentang gagasan yang digulirkan mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto yang menyatakan TNI sudah dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilu tahun 2009.

Menurut Jendral Soetarto, “Indonesia menjadi negara demokrasi yang sempurna hanya bila TNI sudah menggunakan hak pilihnya. Kalau belum, maka belum dapat dikatakan sebagai negara demokrasi dalam arti yang sebenarnya” (Radio 68 H, 21 February 2006). Pernyataan Jendral Soetarto ini tentu sesuai dengan amanat UUD 1945 (hasil amandemen) pasal 28I point 2 yang menyatakan, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”

Tanggapan terhadap wacana yang digulirkan mantan Panglima TNI itu dapat dikategorikan dalam tiga kelompok. Pertama kelompok yang sepaham dengan Jendral Soetarto sebagai pembuat wacana bahwa TNI dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2009. Alasannya sangat mulia demi terwujudnya cita-cita negara Indonesia yang demokratis, yakni bila TNI juga menggunakan hak pilihnya.

Kedua, kelompok yang setuju TNI dapat menggunakan hak pilihnya tetapi belum pada tahun 2009. Kelompok ini melihat bahwa waktu yang lebih ideal untuk TNI menggunakan hak pilihnya adalah tahun 2014. Yang termasuk dapam kelompok ini adalah menhankam, termasuk ketua Lemhamnas Prof Muladi. Kelompok ini melihat TNI belum siap. Indikatornya adalah agenda-agenda reformasi TNI yang belum tuntas, profesionalisme TNI yang belum terjamin, netralitas TNI belum terjamin, kondisi social ekonomi yang mapan yang menjamin terlaksananya demokrasi yang baik.

Ketiga, kelompok yang sama sekali menentang TNI menggunakan hak pilihnya. Kelompok ini lebih melihat adanya ancaman perpecahan dalam tubuh TNI sendiri bila TNI menggunakan hak pilihnya. Menurut kelompok ini apabila TNI mengunakan hak pilihnya TNI kembali terjerat ke kancah politik. Lebih dari itu, hak pribadi atau hak pilih dalam tubuh TNI tidak ada karena yang diutamakan adalah kebersamaan dan kesatuan. Salah satu tokoh yang berpandangan seperti ini adalah mantan Dirjen Sospol Depdagri Mayjen (purn) Soetoyo NK. Menurut Soetoyo, TNI itu ajarannya Sapta Marga yang menekankan persatuan dan kesatuan dan kecintaan terhadap negara kesatuan RI sehingga jika mereka memiliki hak pilih atau dipilih itu akan mengganggu soliditas institusi pertahanan dan keamanan tersebut (satunet.com).

Pada prinsipnya kelompok pertama dan kedua mencoba untuk tunduk pada perintah UUD 1945 seperti yang dikutip di atas. Namun kelompok ketiga juga mesti dilihat sebagai kelompok yang patuh kepada UUD yang sama. Pada pasal 28J point 2 dikatakan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Dengan belum tersedianya payung hukum atau UU yang mengatur penggunaan hak pilih TNI dalam pemilu entah tahun 2009 atau pun diundur tahun 2014 hanya akan membawa bencana bagi bangsa dan negara. Kita perlu memberi penekanan pada klausa – dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Klausa ini dapat dipegang sebagai perintah bahwa keadilan, keamanan, ketertiban umum harus menjadi prioritas. Selama penggunaan hak pilih TNI dalam pemilu dapat menyebabkan nilai-nilai di atas dikorbankan plus demi terjaminnya keberlangsungan negara kesatuan Republik Indonesia, kita harus menerima dengan lapang dada dan sikap patriot agar TNI tidak menggunakan hak pilihnya.

HAM versus masa depan negara
Kita semua dapat menilai dengan gampang bahwa HAM TNI dilanggar apabila hak pilihnya dalam pemilu tidak dipakai. Konsep semua orang harus diperlakukan sama seperti yang diperintahkan UUD 1945 pada pasal 28I di atas sepatutnya harus kita terima dan kita laksanakan. Karena HAM ini merupakan hak paling dasar maka siapapun harus menghormati dan memastikan keterpenuhannya.

Meskipun demikian, kita semua juga mengakui dan menerima kenyataan bahwa betapapun asasinya hak-hak kita, tetap juga harus memperhatikan hak orang lain sebagai batasnannya. Dalam berbicara mengenai HAM dan masa depan negara, mari kita semua menilai mana yang mau kita utamakan. Kita semua pasti sepakat bahwa masa depan negara jauh lebih penting ketimbang penggunaan hak pilih TNI dalam pemilu. Warisan sejarah bangsa dan nilai-nilai yang kita terima dapat dlihat sebagai pembenar gagasan ini. Bahakan dapat dikatakan, inilah wujud konkret dari semangat patriotisme itu.

Sebagai warga negara, sebagai pengawal negara kesatuan Republik tercinta ini, TNI dituntut untuk menunjukkan patriotismenya. Pengorbanan TNI untuk tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu harus dilihat sebagai tindakan patriotis demi suatu nilai yang lebih tinggi dari sekedar menggunakan hak pilih yakni masa depan dan keberlangsungan negara kesatuan Indonesia.

Apapun argumentasi dan prakondisi yang harus dipenuhi agar TNI dapat menggunakan hak pilihnya seperti yang dikemukakan oleh para pendukung gagasan TNI menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tidak akan pernah menjamin masa depan negara ini. Profesionalisme, netralitas atau apapun namanya tidak memberi jaminan apaun bagi masa depan negara kesatuan republik Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa hanya patriotisme yang bisa memberikan jaminan itu.

TNI adalah tentara Negara kesatuan Indonesia. Sejarah dan kekhasanya pasti berbeda dengan tentara di negara demokrasi mana pun. Karena itu tidak perlu menoleh ke sana ke mari dan mencoba mengikuti cara dan pola keterlibatan tentara Negara lain. Karena bila kita melakukannya, pada saat itu juga TNI telah tercerabut dari akarnya. Mari kita semua mau berkorban demi darah para pahlawan, demi masa depan negara kita.

——————————————————————————–

Õ Penulis adalah Pengajar pelajaran Character, cultural, and community development pada sekolah High/Scope Indonesia TB Simatupang, Jakarta Selatan.

November 24, 2006

School of Love Named family

Filed under: Blogroll, Family, Pendidikan, Uncategorized — maxibona @ 10:54 am

School of
Love Named Family

By: Maksimus Adil*

After passing several months of marital life, I got an insight or inspiration or some people call it an understanding about family life. From my own experience, I have discovered that marital life is a kind of school, i.e. a school of love.

There are many reasons why I call it a school of love:

  1. The foundation of family life as well as the first reason why a man and a woman agree to live together as wife and husband is love. Love is the reason why two people from the opposite sex come to an agreement to hand in hand face every situation of their life (bad and luck, sick or health), to always trust and obey each other for their sake and their children.
  2. After a man and a woman decide to marry, the journey is not finished. I mean everything is not perfect yet for them. The decision to marry is just a beginning of a new phase in their life. This couple needs to learn more about each other’s habits and behavior, which are maybe a new discovery for him or her. These new finding can be something that you never hoped for before, something that can give you a different view of your spouse. It can make your love decrease or increase and you have to receive it as a challenge to help you to be more mature than before. So, family life is an on going process to be a real man and woman.
  3. Since family life is an on going process to know your spouse better and together with him or her design your future together, it is a school in its original meaning. School is a training process to be an expert for life in certain aspects.
  4. What do you learn in this school? It is LOVE. LOVE is the main subject for this school. When you come closer to your spouse, you can see him or her better, more clearly. Like I stated above, you will discover his or her new habit or behavior. Those discoveries can give a negative or positive effect on you. It is the real challenge. For instance this new finding makes your love or respect to your spouse decrease; as a human being that is already blessed with a mind, you have a responsibility to save your marriage, to defend it, to fulfill your oath before the public. The only one way to do it is to LEARN. You have to learn how to love your spouse and make it grow day by day.
  5. In this school, who is the teacher and who is the student? The spouses are teachers as well as the students. As a teacher, you have to be a model for the world how to love your partner or other people. You are a model for how you obey or fulfill your commitment and your oath before the public. At the same time both of you are students who need to always learn how to love each other.
  6. When will you graduate from this school? This school is a school for life. You will graduate on the day the death comes to separate you. Your graduation depends on how you live your marital life. And the only one who knows it is God and maybe yourself.

SO, don’t give up. Many problems you face along your journey in your marital life are homework or projects for the students. Just do your project or homework carefully and you will get the credit or point.

In practice (on our daily life) the situation is really complicated. Beside family problem itself, different self interest, different hobbies, many others different things which are the spouses already knew before (maybe religion, race, etc.), the situation or difficulties which we find in work or environment around us give more effect in our marital life. For these reason we need a problem management skill. But problem management skill just works if we know the priority in our life. So, we have to design our value hierarchy first and then we know what is the most, more, or even important for us. Each parties should be sit and speak together to design their value hierarchy. And because love can make everything is possible, I believe, because of love every spouses will learn more skill to make their love strength enough to face many challenges in this era.

One of the most important challenges in marital life is children. Almost all people who agree to marriage have the same dream: have children. In a normal marital relationship all spouses need to have their own descendants. As a part of society, the on-going task of these spouses is to educate or train their children to live in harmony with others.

The main subject in which parents have to train their children is LOVE. Parents have to show to their children how to love other by loving each other and their children in words and deeds. If the parents usually teach their children to love and let them experience how to be loved, those children will be great lovers for others and society will be a society of love.

By doing these, I am sure, the teacher in school will not find any difficulties with those children, criminal acts in society will decrease, and above all we create a brother and sister relationship. This is the society that we want to live in. This is the Garden of Eden society, this is the heavenly life. Each of us has the same responsibility to develop this kind of society by starting to make love as the main spirit in our family. Finally, love is love only if we practice it.


Jakarta, July 28, 2006



* The writer is Catholic Religion and 3CD teacher at Sekolah High/Scope Indonesia, TB Simatupang.

November 22, 2006

Hello world!

Filed under: Uncategorized — maxibona @ 10:49 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog di WordPress.com.