Make yourself happy

Februari 27, 2009

GURU DI ERA DIGITAL

Filed under: Pendidikan — maxibona @ 6:55 am

Schools are stuck in the 20th century. Students have rushed into the 21st. How can schools catch up and provide students with a relevant education? (Marc Prensky)
Menjadi guru di abad 21 (era digital) tidaklah sama dengan menjadi guru di abad 20 dan abad-abad sebelumnya. Dunia di mana kita hidup saat ini secara fisik dan teknologi telah berkembang lebih maju. Hal itu turut mempengaruhi cara manusia berada, berintearaksi, berrelasi, dan belajar.

Abad 21 adalah era digital. Di mana-mana orang mengggunakan peralatan digital. Mereka yang lahir paling tidak setelah tahun 1980-an adalah native speaker tekhnologi. Mereka fasih dalam menggunakan bahasa digital komputer, video games, internet, dan juga handphone. Mereka disebut digital native (DN). Sementara yang lahir sebelum tahun 1980-an disebut digital immigrant (DI) (paling tidak sebagiannya). Mereka mengadopsi banyak aspek dari tekhnologi. Tetapi seperti orang yang terlambat dalam belajar bahasa asing, mereka terkadang gagap dalam menggunakannya. Itu disebabkan karena paradigma yang mereka gunakan masih paradigma yang lama. Ambil contoh, ketika membeli hanphone atau camera digital yang baru, DI cenderung membaca buku manualnya terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Padahal, anak-anak digital native biasanya langsung menggunakannya sambil mendalami bagaimana cara mengoperasikan fitur-fiturnya.

Anak saya yang berumur 4 tahun misalnya, sangat antusias dalam menggunakan peralatan digital. Dia bisa menggunakan hanphone, mengoperasikan DVD player, atau camera digital secara mandiri (sebelumnya dia memperhatikan bagaimana kami mengoperasikan alat-alat itu). Hebatya, dia dapat melakukan semua itu sebelum dia dapat membaca. Malahan tanpa saya ajari, dia bisa mengoperasikan handphone Nseries saya hanya dengan melihat fitur tutorialnya terlebih dahulu. Itu pun dia temukan secara kebetulan ketika mencoba mengutak-ngatik handphone yang saya tinggalkan di meja. Dengan cara yang sama dia bisa menjalankan games yang ada di dalamnya. Tanpa memahami bahasa Inggris, dia mencoba menerjemahkan petunjuk how to play yang ada pada tiap-tiap game itu – seturut pemahamannya – berdasarkan simulasi yang dilihatnya.

Kondisi riil abad 21 membuat orang dewasa termasuk para guru yang datang dari dunia pra-digital kesulitan untuk membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak atau para siswa dari era digital. Kebiasaan dan cara mereka belajar pun tentu sangat berbeda dengan kebiasaan dan cara para guru dan orang tua mereka belajar. Hal ini sering membuat kedua belah pihak, murid di satu pihak dan guru dan orang tua di lain pihak, sama-sama fustrasi.

Yang kurang kita sadari adalah para murid yang kita hadapi setiap hari berbeda secara radikal dari kita. Mereka tidak cocok dengan system pendidikan (abad 20) yang kita rancang (Marc Prensky, On the Horizon, 2001). Ada begitu banyak ketidaknyambungan di sana-sini. Para murid – digital native – menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber-sumber multimedia, sementara para guru – digital immigrant – memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas (hanya menggunakan buku teks, misalnya). Para murid suka melakukan beberapa kegiatan sekaligus (misalkan menyelesaikan tugas-tugas sambil mendengar musik dari iPod), sementara gurunya menghendaki untuk melakukan satu hal saja pada satu waktu. Para murid lebih suka melihat gambar, mendengar bunyi (musik) dan melihat video terlebih dahulu sebelum melihat teksnya, sementara gurunya memberikan teksnya dulu sebelum menunjukkan gambarnya atau mendengar atau menonton videonya. Murid ingin mengakses informasi multimedia hyperlink secara acak, gurunya lebih menyukai menyediakan informasi secara linier, logis dan berurut. Murid menyukai interkasi secara simultan dengan banyak orang (siswa lainnya), gurunya menginginkan siswanya untuk bekerja secara independent. Murid menyukai pelajaran yang relevan, menarik dan dapat langsung digunakan (secara instant), gurunya ingin mengikuti kurikulum dan memenuhi standardisasi (Marc Prensky).

Guru Harus Disiapkan

Lingkungan di mana orang bertumbuh memberi dampak yang besar pada cara dia bersosialisasi, berinteraksi, dan belajar. Perbedaan pengalaman ternyata juga berpengaruh pada struktur otak. Dr. Bruce D. Berry (Baylor College of Medicine) dengan tegas mengatakan, “Different kinds of experiences lead to different brain structures”. Perbedaan ini tentu sangat berpengaruh pada cara orang belajar atau berinteraksi. Soalnya sekarang adalah siapkah para guru kita menghadapi perbedaan ini? Apakah lembaga-lembaga pendidikan guru kita telah bekerja dengan giat untuk mempersiapkan calon pendidik yang bisa menjawabi tuntutan kebutuhan anak didik DN?
Tentu saja benar bahwa tidak semua anak yang lahir di atas tahun 1980-an adalah DN. Karena akses terhadap tekhnologi serta penguasaan atasnya sangat menentukan apakah seseorang termasuk DN atau tidak. Dari segi itu maka fakta-fakta yang diungkapkan di atas bisa saja belum terjadi di semua tempat di tanah air. Namun itu tidak berarti kita masih boleh santai.
Kita semua tahu bahwa tekhnolgi berkembang dengan cepat. Internet menjadi semakin penting bagi masyarakat kita dari hari ke hari. Seperti yang kita saksikan di berbagai pelosok dunia, revolusi internet secara fundamental dan signifikan sangat berpengaruh terhadap politik, pendidikan, dan interaksi antar manusia.

Max Adil
(Mengajar di ‘Sinarmas World Academy’, BSD Tangerang).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: