Make yourself happy

November 26, 2006

Bangsa yang Berpikir Pendek

Filed under: Pendidikan — maxibona @ 8:43 am

Tulisan berikut merupakan suatu refleksi pribadi atas sikap, tindakan, dan atau prilaku para pemimpin dan rakyat negeri ini. Semoga bermanfaat.

Bangsa yang Berpikir Pendek

Sebuah Renungan dan Kritik

Oleh Maksimus Adil* 

Membaca kompas edisi Jumat 31 Maret 2006 pada halaman 4 khususnya tulisan Ikrar Nusa Bhakti tentang ‘Nasionalisme Kesiangan’ dan tulisan Alfons Taryadi pada halaman 15 tentang ‘Refleksi’ sangat mencerahkan. Jika dibaca dengan pikiran yang terbuka kita akan menemukan bahwa kedua tulisan ini berhubungan satu sama lain. Memang harus diakui bahwa tulisan Alfons tentang refleksi hendak menanggapi kenyataan yang berbeda dibandingkan dengan tulisan Ikrar. Tetapi isi yang mau disampaikan oleh Alfons sebetulnya menjadi sarana untuk dapat melakukan sebuah permenungan agar bisa menjawab beberapa pertanyaan yang menggugat pada tiga alinea terakhir pada tulisan Ikrar.

Refleksi dalam arti suatu kegiatan mental yang melakukan ‘renungan secara mendalam’ atau ‘kontemplasi introspektif atas isi kualitas gagasan atau pengalaman sendiri (dan orang lain atau bangsa: penulis) yang teringat’ (lih. Alfons Taryadi) merupakan kunci untuk dapat merancang sebuah aksi perbaikan menuju sesuatu yang lebih baik di hari esok. Berdasarkan pemahaman ini, sebetulnya refleksi dalam pijit refleksi juga mempunyai nuansa yang sama. Selain adanya rasa sakit (yang diterima dengan rela demi kesembuhan akibat titik-titik syaraf di tangan atau kaki yang ditekan oleh tukan pijit, dan sakitnya menemukan kenyataan yang pahit yang telah dialami ketika melakukan sebuah kegiatan mental untuk melakukan renungan secara mendalam), juga ada kesamaan dalam metode.

Dalam pijit refleksi, tukang pijit mencoba menemukan titik syaraf yang terganggu pada telapak tangan atau kaki untuk dipijit agar menyembuhkan pasiennya.
Ada upaya mencari akar permasalahan, tidak asal tekan atau pencet, apalagi mencoba tekan langsung pada area yang terasa sakit. Sementara refleksi yang berarti kegiatan mental tadi, mempunyai tujuan yang sama. Perefleksi mencoba merenung, melihat ke kedalaman dirinya untuk menemukan kembali, mengevaluasi, menilai dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Di situ ada upaya merajut kembali pengalaman, untuk kemudian mencoba mencari jalan keluar bila ternyata ada masalah demi perbaikan di hari esok.

Refleksi adalah kegiatan yang sangat sederhana, tetapi sulit. Bagi orang yang terbiasa melakukannya, refleksi bukan hal yang susah. Kita cukup duduk, melihat ke dalam diri, menilik kembali semua yang telah atau sedang akan berlalu. Tetapi bagi orang yang belum pernah melakukannya, refleksi itu sesuatu yang sukar. Hampir pasti orang-orang bijak adalah orang-orang yang terbiasa melakukan refleksi. Kebiasaan merefleksi, membuat mereka tidak pernah gegabah dalam menanggapi sesuatu. Mereka sangat tenang, dan selalu mencoba melihat akar permasalahan dari persoalan yang dihadapi. Karena itu, mereka juga umumnya bukan orang yang emosional dan reaktif.

Orang yang belum pernah atau bahkan tidak tahu bagaimana melakukan refleksi pasti bukan orang bijak. Orang-orang ini cenderung emosional, mereka tidak terbiasa mengolah pengalaman dirinya, apalagi mencoba mengolah pengalaman orang lain untuk menjadi pelajaran bagi dirinya. Orang-orang ini cenderung reaktif, berpikir pendek dan suka mengambil jalan pintas dalam melakukan sesuatu. Mereka ibarat tukang pijat amatiran dan bodoh, yang mencoba memijat tubuh pasiennya langsung pada area yang sakit. Kita semua tahu apa akibatnya bila dipijit oleh tukang pijat bodoh dan amatiran seperti itu. Bukannya kesembuhan dan rasa lega yang akan diterima tubuh setelah dipijit melainkan rasa sakit yang bertambah parah.

Rakyat
Indonesia, mulai dari yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi, dari orang desa sampai yang di kota-kota besar, dari pejabat setingkat RT sampai politisi di Senayan, dari papalele di kampung-kampung sampai para konglomerat, lebih banyak yang tidak bijak. Termasuk di dalam kelompok ini adalah mereka yang dikatakan oleh Ikrar sebagai pahlawan kesiangan.

Indikasi itu sangat terang benderang. Lihat saja produk RUU yang dibuat DPR bersama pemerintah. Ambil contoh RUU APP dan revisi UU No 13 Tahun 2003 yang mengatur ketenagakerjaan. Tujuan dari diterbitkannya RUU APP adalah untuk menyelamatkan generasi muda dan menjaga moral bangsa. Namun isi dari RUU APP itu jauh dari memadai untuk mengatasi masalah keterpurukan moral yang kita hadapi, belum lagi persoalan lain seperti tidak terakomodirnya budaya dan kearifan local dalam RUU APP itu.

Revisi UU No 13 tahun 2003 bertujuan untuk mengatasi masalah 10 juta penganggur yang ada sekarang ini. Demikian kata Menakertrans Erman Suparno. Konon, setelah revisi UU ini para pengusaha bisa menampung 10 juta penganggur yang ada saat ini. (Kompas 31 Maret 2006). Pertanyaannya adalah benarkah demikian? Apakah revisi UU No 13 tahun 2003 otomatis dapat menyelesaikan masalah pengangguran? Tidak ada yang bisa menjamin! Padahal di lain pihak, revisi itu jelas-jelas merugikan para pekerja dan akan memberi rasa tidak aman bagi mereka dalam berkarya.

Perlu belajar merefleksi

Refleksi tentu bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi harus kita akui, kemampuan merefleksi merupakan kemampuan dasar untuk dapat terus memperbaiki diri. Kemampuan merefleksi juga membantu kita untuk tidak berpikir pendek, karena refleksi mendorong kita untuk terus bertanya, mengevaluasi, menilai dan akhirnya menemukan kebenaran atau melahirkan keputusan yang lebih baik. Refleksi membantu kita untuk sabar, bijak, dan mau berpikir panjang.

Kita perlu belajar untuk melakukan refleksi. Kurikulum pendidikan kita perlu memberi raung kepada anak didik untuk melakukan refleksi secara rutin. Bila perlu dalam sekian jam pelajaran dalam sehari, dialokasikan sekian menit untuk melakukan refleksi. Kewajiban untuk menulis buku harian juga bisa sangat membantu untuk mulai melakukan refleksi.

Bila semua anak didik dan elemen lain bangsa ini sudah mempunyai kemampuan ini, niscaya kita bisa menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang menggugat dari Ikrar Nusa Bhakti dan tidak akan ada lagi orang yang menjadi pahlawan kesiangan melainkan pahlawan sesungguhnya untuk kepentingan bangsa dan Negara.

Bintaro, 1 April 2006


* Penulis adalah alumnus STF Driyarkara dan Pengajar Pelajaran Character, Cultural, and Community Development pada Sekolah High/Scope Indonesia, TB Simatupang.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: