Make yourself happy

November 26, 2006

Polemik Seputar Hak Pilih TNI

Diarsipkan di bawah: Blogroll, Demokrasi, HAM, Pendidikan — maxibona @ 8:22 am

Tulisan ini dibuat sebagai renungan pribadi atas polemik boleh atau tidak TNI ikut memilih dalam pemilu yang akan datang. Bagi saya bukan sekedar masalah boleh atau tidaknya. Yang terpenting adalah nilai dibalik gagasan bahwa TNI jangan ikut memilih seperti yang telah dilaksanakan selama ini. Biarkan TNI tidak memilih, dan itu mesti dilihat sebagai wujud pengorbanan demi kepentingan yang lebih besar, yakni utuhnya negara kesatuan Republik Indonesia ini.

Polemik Seputar Hak Pilih TNI

Maksimus AdilÕ

Polemik seputar boleh atau tidaknya TNI menggunakan hak pilihnya pada pemilu tahun 2009 terus bergerak liar. Para pengamat politik maupun pejabat negara baik sipil maupun militer masing-masing memberikan argumentasinya untuk mendukung maupun menentang gagasan yang digulirkan mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto yang menyatakan TNI sudah dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilu tahun 2009.

Menurut Jendral Soetarto, “Indonesia menjadi negara demokrasi yang sempurna hanya bila TNI sudah menggunakan hak pilihnya. Kalau belum, maka belum dapat dikatakan sebagai negara demokrasi dalam arti yang sebenarnya” (Radio 68 H, 21 February 2006). Pernyataan Jendral Soetarto ini tentu sesuai dengan amanat UUD 1945 (hasil amandemen) pasal 28I point 2 yang menyatakan, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”

Tanggapan terhadap wacana yang digulirkan mantan Panglima TNI itu dapat dikategorikan dalam tiga kelompok. Pertama kelompok yang sepaham dengan Jendral Soetarto sebagai pembuat wacana bahwa TNI dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2009. Alasannya sangat mulia demi terwujudnya cita-cita negara Indonesia yang demokratis, yakni bila TNI juga menggunakan hak pilihnya.

Kedua, kelompok yang setuju TNI dapat menggunakan hak pilihnya tetapi belum pada tahun 2009. Kelompok ini melihat bahwa waktu yang lebih ideal untuk TNI menggunakan hak pilihnya adalah tahun 2014. Yang termasuk dapam kelompok ini adalah menhankam, termasuk ketua Lemhamnas Prof Muladi. Kelompok ini melihat TNI belum siap. Indikatornya adalah agenda-agenda reformasi TNI yang belum tuntas, profesionalisme TNI yang belum terjamin, netralitas TNI belum terjamin, kondisi social ekonomi yang mapan yang menjamin terlaksananya demokrasi yang baik.

Ketiga, kelompok yang sama sekali menentang TNI menggunakan hak pilihnya. Kelompok ini lebih melihat adanya ancaman perpecahan dalam tubuh TNI sendiri bila TNI menggunakan hak pilihnya. Menurut kelompok ini apabila TNI mengunakan hak pilihnya TNI kembali terjerat ke kancah politik. Lebih dari itu, hak pribadi atau hak pilih dalam tubuh TNI tidak ada karena yang diutamakan adalah kebersamaan dan kesatuan. Salah satu tokoh yang berpandangan seperti ini adalah mantan Dirjen Sospol Depdagri Mayjen (purn) Soetoyo NK. Menurut Soetoyo, TNI itu ajarannya Sapta Marga yang menekankan persatuan dan kesatuan dan kecintaan terhadap negara kesatuan RI sehingga jika mereka memiliki hak pilih atau dipilih itu akan mengganggu soliditas institusi pertahanan dan keamanan tersebut (satunet.com).

Pada prinsipnya kelompok pertama dan kedua mencoba untuk tunduk pada perintah UUD 1945 seperti yang dikutip di atas. Namun kelompok ketiga juga mesti dilihat sebagai kelompok yang patuh kepada UUD yang sama. Pada pasal 28J point 2 dikatakan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Dengan belum tersedianya payung hukum atau UU yang mengatur penggunaan hak pilih TNI dalam pemilu entah tahun 2009 atau pun diundur tahun 2014 hanya akan membawa bencana bagi bangsa dan negara. Kita perlu memberi penekanan pada klausa – dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Klausa ini dapat dipegang sebagai perintah bahwa keadilan, keamanan, ketertiban umum harus menjadi prioritas. Selama penggunaan hak pilih TNI dalam pemilu dapat menyebabkan nilai-nilai di atas dikorbankan plus demi terjaminnya keberlangsungan negara kesatuan Republik Indonesia, kita harus menerima dengan lapang dada dan sikap patriot agar TNI tidak menggunakan hak pilihnya.

HAM versus masa depan negara
Kita semua dapat menilai dengan gampang bahwa HAM TNI dilanggar apabila hak pilihnya dalam pemilu tidak dipakai. Konsep semua orang harus diperlakukan sama seperti yang diperintahkan UUD 1945 pada pasal 28I di atas sepatutnya harus kita terima dan kita laksanakan. Karena HAM ini merupakan hak paling dasar maka siapapun harus menghormati dan memastikan keterpenuhannya.

Meskipun demikian, kita semua juga mengakui dan menerima kenyataan bahwa betapapun asasinya hak-hak kita, tetap juga harus memperhatikan hak orang lain sebagai batasnannya. Dalam berbicara mengenai HAM dan masa depan negara, mari kita semua menilai mana yang mau kita utamakan. Kita semua pasti sepakat bahwa masa depan negara jauh lebih penting ketimbang penggunaan hak pilih TNI dalam pemilu. Warisan sejarah bangsa dan nilai-nilai yang kita terima dapat dlihat sebagai pembenar gagasan ini. Bahakan dapat dikatakan, inilah wujud konkret dari semangat patriotisme itu.

Sebagai warga negara, sebagai pengawal negara kesatuan Republik tercinta ini, TNI dituntut untuk menunjukkan patriotismenya. Pengorbanan TNI untuk tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu harus dilihat sebagai tindakan patriotis demi suatu nilai yang lebih tinggi dari sekedar menggunakan hak pilih yakni masa depan dan keberlangsungan negara kesatuan Indonesia.

Apapun argumentasi dan prakondisi yang harus dipenuhi agar TNI dapat menggunakan hak pilihnya seperti yang dikemukakan oleh para pendukung gagasan TNI menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tidak akan pernah menjamin masa depan negara ini. Profesionalisme, netralitas atau apapun namanya tidak memberi jaminan apaun bagi masa depan negara kesatuan republik Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa hanya patriotisme yang bisa memberikan jaminan itu.

TNI adalah tentara Negara kesatuan Indonesia. Sejarah dan kekhasanya pasti berbeda dengan tentara di negara demokrasi mana pun. Karena itu tidak perlu menoleh ke sana ke mari dan mencoba mengikuti cara dan pola keterlibatan tentara Negara lain. Karena bila kita melakukannya, pada saat itu juga TNI telah tercerabut dari akarnya. Mari kita semua mau berkorban demi darah para pahlawan, demi masa depan negara kita.

——————————————————————————–

Õ Penulis adalah Pengajar pelajaran Character, cultural, and community development pada sekolah High/Scope Indonesia TB Simatupang, Jakarta Selatan.

November 24, 2006

School of Love Named family

Diarsipkan di bawah: Blogroll, Family, Pendidikan, Uncategorized — maxibona @ 10:54 am

School of
Love Named Family

By: Maksimus Adil*

After passing several months of marital life, I got an insight or inspiration or some people call it an understanding about family life. From my own experience, I have discovered that marital life is a kind of school, i.e. a school of love.

There are many reasons why I call it a school of love:

  1. The foundation of family life as well as the first reason why a man and a woman agree to live together as wife and husband is love. Love is the reason why two people from the opposite sex come to an agreement to hand in hand face every situation of their life (bad and luck, sick or health), to always trust and obey each other for their sake and their children.
  2. After a man and a woman decide to marry, the journey is not finished. I mean everything is not perfect yet for them. The decision to marry is just a beginning of a new phase in their life. This couple needs to learn more about each other’s habits and behavior, which are maybe a new discovery for him or her. These new finding can be something that you never hoped for before, something that can give you a different view of your spouse. It can make your love decrease or increase and you have to receive it as a challenge to help you to be more mature than before. So, family life is an on going process to be a real man and woman.
  3. Since family life is an on going process to know your spouse better and together with him or her design your future together, it is a school in its original meaning. School is a training process to be an expert for life in certain aspects.
  4. What do you learn in this school? It is LOVE. LOVE is the main subject for this school. When you come closer to your spouse, you can see him or her better, more clearly. Like I stated above, you will discover his or her new habit or behavior. Those discoveries can give a negative or positive effect on you. It is the real challenge. For instance this new finding makes your love or respect to your spouse decrease; as a human being that is already blessed with a mind, you have a responsibility to save your marriage, to defend it, to fulfill your oath before the public. The only one way to do it is to LEARN. You have to learn how to love your spouse and make it grow day by day.
  5. In this school, who is the teacher and who is the student? The spouses are teachers as well as the students. As a teacher, you have to be a model for the world how to love your partner or other people. You are a model for how you obey or fulfill your commitment and your oath before the public. At the same time both of you are students who need to always learn how to love each other.
  6. When will you graduate from this school? This school is a school for life. You will graduate on the day the death comes to separate you. Your graduation depends on how you live your marital life. And the only one who knows it is God and maybe yourself.

SO, don’t give up. Many problems you face along your journey in your marital life are homework or projects for the students. Just do your project or homework carefully and you will get the credit or point.

In practice (on our daily life) the situation is really complicated. Beside family problem itself, different self interest, different hobbies, many others different things which are the spouses already knew before (maybe religion, race, etc.), the situation or difficulties which we find in work or environment around us give more effect in our marital life. For these reason we need a problem management skill. But problem management skill just works if we know the priority in our life. So, we have to design our value hierarchy first and then we know what is the most, more, or even important for us. Each parties should be sit and speak together to design their value hierarchy. And because love can make everything is possible, I believe, because of love every spouses will learn more skill to make their love strength enough to face many challenges in this era.

One of the most important challenges in marital life is children. Almost all people who agree to marriage have the same dream: have children. In a normal marital relationship all spouses need to have their own descendants. As a part of society, the on-going task of these spouses is to educate or train their children to live in harmony with others.

The main subject in which parents have to train their children is LOVE. Parents have to show to their children how to love other by loving each other and their children in words and deeds. If the parents usually teach their children to love and let them experience how to be loved, those children will be great lovers for others and society will be a society of love.

By doing these, I am sure, the teacher in school will not find any difficulties with those children, criminal acts in society will decrease, and above all we create a brother and sister relationship. This is the society that we want to live in. This is the Garden of Eden society, this is the heavenly life. Each of us has the same responsibility to develop this kind of society by starting to make love as the main spirit in our family. Finally, love is love only if we practice it.


Jakarta, July 28, 2006



* The writer is Catholic Religion and 3CD teacher at Sekolah High/Scope Indonesia, TB Simatupang.

Blog pada WordPress.com.